Syaikh Abdul Wahhab asy-Sya’rani bercerita : “Pernah seseorang yang mengaku ‘arif billah datang kepadaku, lalu ia berbicara tinggi tentang Fana dan Baqo tanpa di dasari ilmu. Banyak orang yang meyakininya. Ia bersamaku beberapa hari, kemudian aku bekata kepadanya “Beritahu aku apa saja syarat-syarat whudu dan sholat !” Ia menjawab “Aku belum belajar bab itu sama sekali“. Maka aku berkata kepadanya “Wahai saudaraku, sesungguhnya menyesuaikan segala ibadah dengan ketentuan Al-Quran dan As-Sunnah adalah perkara yang wajib menurut kesepakatan para ulama. Barangsiapa yang tidak boleh membezakan antara yang wajib dan sunnah, antara yang makruh dan haram maka ia adalah orang bodoh. Dan orang bodoh tidak patut untuk di ikuti baik dalam thoriqah lahir mahupun thoriqah batin “. Lalu ia membisu seribu bahasa dan tidak ada jawaban sama sekali darinya. Sejak itulah ia menjauhiku”.
Sayyidi Syaikh Ali Al-Khowwash Rh berkata: “Sesungguhnya jalan para ulama sufi terhias dengan Al-Quran dan Al-Hadits bagaikan terhias dengan emas dan permata. Demikian itu kerana mereka di setiap gerak-gerik dan diam mereka mempunyai niat yang baik sesuai dengan timbangan Syari’at. Dan tidak boleh mengetahuinya kecuali orang yang memperdalami ilmu-ilmu Syari’at “.

